""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Senin, 18 Mei 2009

Senja dalam Tatapan Emak

Angin pesisir perlahan berhembus kala langit masih berselimut semburat merah, kutatap Emak yang merajut kain di senja yang bisu ini. Pandang mata emak jauh mengembara tak seiiring dengan tangan emak yang bergerak lincah mengikuti jarum dan benang yang menyusup diantara lubang kain. Aku tak mengerti bila kejadian kemarin masih menyisakan rasa di benak Emak.

"Mak, kenapa Emak melamun?"

"Eh kamu Nang, sini duduk samping Emak, mak mau tanya Nang"

"Apalagi sih Mak? wah bagus benar rajutan Emak"

"sudahlah jangan mengalihkan perhatian, mak mau tanya kabar bulan?"
"Lho kan sudah Nang jelasin, Bulan mengambil jalannya sendiri, dan aku sama Emak di sini"

Mak hanya terdiam, ada sesuatu yang Mak ingin tanyakan tapi hanya mata emak yang menjawab pertanyaanku. Kembali tangan Emak merajut dengan lincahnya tapi mata Emak lepas kembali ke arah senja yang semakin kelam seiring angin dingin yang juga mulai membekukan kehangatan.
Sementara itu terdengar "Tuhan Tolong" Derby mengalun dari transistor di leher seorang penggembala yang dengan setia mengikuti lima ekor kerbau untuk menghantarkannya ke peraduan di ujung desa. Menyayat dan mengiris lirik lagu itu kembali menguak kenangan. Album demi album terbuka dalam memori di kepalaku.

"Kenapa kamu menangis Nang?" tiba-tiba suara Emak mengejutkanku
"Nggak papa kok Mak"

"Kamu tuh aneh Nang, nggak papa kok ada yang mengalir dari matamu, apa itu bukan menangis namanya Nang?"

"Nang teringat terakhir saat bulan menyampaikan bahwa dia harus menjalani kehidupannya yang baginya sebuah dilema Mak"

"Maksud kamu Nang?"

" Yah, bulan mencari kesempurnaan yang tidak ditemukan dari seseorang, Nang mengerti kok Mak, bulan itu baik, sayang sama Nang, tapi keadaan yang membuat bulan tidak bisa Nang miliki"

"Sudahlah Nang, ambil saja hikmahnya bahwa semua itu adalah bukti kehidupan. saat datang kebahagiaan ya dirasakan kebahagiaan, selama komitmen untuk merasa bahagia itu dirasakan dengan lapang dada, syukur pun akan terucap dalam hati, tetapi yang harus diingat jangan saling menyalahkan disaat semua harus berakhir Nang, kedua pihak harus bisa menerima bahwa semua yang dijalani ini memang sudah harus diterima, jangan pernah mengungkit apalagi menuduh mempermainkan itu bukan hal yang baik Nang. Kalau memang dulu merasa bahagia, ya sudah rasakan kebahagiaan itu, tapi kalau sedih ya segera buang untuk kebahagiaan selanjutnya"

"Tapi berat menjalaninya Mak"
"Iya nang Emak tahu kok, memang teori itu tidak seberat yang merasakan, itulah yang Mak katakan. Di dunia ini ada dua kutub utara-selatan, sakit-sehat, bahagia-sedih, itulah yang memang harus kita jalani. Semua akan berpisah Nang, kalau bukan sesama kita yang memisahkan, toh nantinya Tuhan pun akan memisahkan dengan kehendaknya Nang"

"Iya Mak....."

"Bapakmu saja sampai sekarang tidak tahu di mana sosoknya?, sampai setua ini Emakmu masih belum tahu, Emak terima dengan ikhlas Nang, toh ini sudah garis yang harus Emak jalani. Jadi belajarlah dari Emakmu Nang"

"Maafkan Nang Mak, bila mengingatkan Mak akan Bapak"
"ya ya sudahlah, kamu mandi dulu sana keburu magrib lho"

"Iya Mak, maturnuwun, Mak kembali menguatkan hati Nang"

Seiring alunan Juz Amma di kubah Mushola aku pun tinggalkan Emak yang masih saja menatap jalan setapak hingga sudut gang, ada sesuatu yang Emak nantikan. Aku hanya bisa meraba tanpa jawaban, Bapakah yang emak nantikan ataukah kebahagiaanku yang Mak harapkan.

"Maafkan Nang Mak bila belum bisa membawa seseorang untuk membahagiakan Mak"

2 komentar:

Anazkia mengatakan...

Cerpen yah Pak...??? tumben bikin cerpen..

Fanda mengatakan...

Salam kenal, Pak. Wah..cerpennya mantep deh!

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...