""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Kamis, 28 Juni 2012

Ini tentang Rindu dan Belati

Menelusup riuh dalam pori-pori kulitku
kerinduan lambat laun mempurba
seperti gurindam XII  jarang termaknai saat ini
berkali dentingan puitis lirih rapal namamu
berkali tatapan ini kosong pandang bayangmu
tapi selalu belati yang muncul
sayat rindu hingga luka kembali menganga

menelusup riuh dalam pori-pori kulitku
kerinduan yang lambat laun mempurba

bulan masih redup seperti malam-malam lalu, pucat
tak jua purnama menjemput

ini tentang rindu luruh tenggelam dalam sepi
entah apa arti makna tatapanmu,
entah apa arti genggaman jemarimu
entah apa arti senyum indahmu
bila belati selalu saja sayat rindu hingga luka kembali

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...