""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Jumat, 10 Juli 2009

Bias Awan Tampar Aku ke Sudut Cakrawala

Kulari dari tatap mimpi-mimpiku
Kubiarkan mengalir tiap kenangan purnama di muara ini,
biarkan riaknya membawa kisah ini pergi.
Biarkan sejuk angin pesisir biaskan bayangmu.
Biarlah lukisan wajahmu indah di tiap gelombang pesisir
dan biarkan langit menabur senyum pada raut bayangmu.
Di korneamu kulihat wajahku, dalam aku tatap
tak ingin lepas menatap wajahku di teduh korneamu
aku melihat tubuhku menari-nari, tersenyum dan terlena

kini aku tak lagi melihat wajahku di teduh korneamu
meski mataku dan matamu saling bertatapan dalam angan dan mimpi
seraut roman tak dapat kutatap
Kini aku tergagap bawa namamu ke ujung langit,
Bias awan semakin menamparku di sudut cakrawala
aku hanyalah Majnun dengan syair dan sajak kala menyapamu.
Sungguh tak pantas mengharap Laila berkelana membawa sekeranjang mimpi

Aku ingin suatu pagi terbangun dengan mimpi baru
Tuk membuatku berpijak.
Tapi kembali namamu menyapa pelan dari kotak memori
bersama Kisah dongeng putri dan pangeran
berarak bait sajak pun
takkan kembalikan purnama rengkuh pesisir

Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...