""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Minggu, 05 Juli 2009

Memori Bersama Kabut di Puncak Ungaran


Sore Itu 4 Juli 2009 di bawah payung kabut kami, aku dan 20 an mahasiswa yang tergabung dalam KSR IKIP PGRI Semarang melakukan satu ekspedisi ke Puncak Ungaran dalam rangka PTKK bagi anggota KSR. Setelah tiba di desa Medini kami pun mulai menapaki jalan setapak terjal dan berdebu di hamparan pohon teh. Tujuan kami adalah menuju desa Promasan atau yang dikenal oleh masyarakat dengan nama desa Candi adalah sebuah desa terakhir yang merupakan bascampe bagi para pendaki. Langit yang memayungi kami pun tampak pucat bahkan gerimis menyambut perjalanan kami. setelah 2 jam berjalan kami pun akhirnya tiba. Tepat pukul 15.05 kami pun dapat menyandarkan sejenak pungggung dan memanjakan kaki untuk mengembalikan tenaga dan nafas kami sesaat sebelumnya memburu bersama dingin lereng ungaran.

setelah sejenak istirahat dan sholat. kami lanjutkan susur Goa. sebuah Goa peninggalan penjajah jepang.
Sebuah Goa alami di bawah hamparan pohon teh dengan keadaan alami tanpa renovasi kami masuki. Gelap dan pengap pun menyambut kami. Sorotan lampu baterai pun menerangi Goa yang biasanya sunyi. Aura mistik pun membuat merinding tiap kami sorot kamar2 bekas penyiksaan bagi rakyat pada masa lalu.(dikisahkan oleh pak Pasimin salah satu penduduk asli desa Promasan) setelah 15 menit akhirnya cahaya putih terlihat begitu kami sampai di ujung Goa. alhamdulillah kami pun kembali tatap hamparan pohon teh dengan langit hitam dengan hembusan dingin yang makin menusuk pori-pori.


"Pak, jadi muncak tidak.., sudah pukul 01.30." aku pun tersentak karena memang hanya memejamkan mata sekitar 30 menit. Yah aku masih ingat, terakhir aku menguji praktik pada pukul 23.30. Setelah berusaha memejamkan mata karena dingin masih saja mengganggu mata untuk sekedar terpejam. Tepat pukul 02.00 Wib 5 Juli 2009 setelah packing dan persiapan kami pun mulai menapaki jalan terjal berbatu dan berdebu yang menanjak menuju puncak ungaran. Bulan pun terang bersinar menjelang purnama. jadi lampu alam sangat membantu kami dalam perjalanan malam itu. Pohon teh lebih tinggi dari tubuh kami dan jalan setapak yang dalam menjadikan kami seakan berjalan di bawah lorong. Setelah 30 menit berjalan kami pun tiba di pos pertama yaitu sebuah gubug beratap seng yang merupakan tempat beristirahat sejenak bagi para pendaki.


Tantangan semakin berat selepas dari pos pertama dan membuat kami termotivasi walaupun ada satu dua peserta putri yang mulai mengeluh dengan fisiknya, bahkan salah satunya mengalami kram perut.
setelah tertangani kami pun lanjutkan, kabut tebal menghalangi pandangan kami. Biasanya selepas pos pertama kami dapat melihat lautan lampu di kota bawah, ungaran, semarang, ambarawa, salatiga. Tetapi karena kabut benar2 telah menghilangkan pemandangan tersebut. Walaupun demikian perjalanan kabut yang silih berganti tetap memberikan jeda sesaat bagi mata kami untuk bisa menikmati pemandangan tersebut. Pukul 03.30 Wibkami pun tiba di pos kedua atau sebuah dataran kecil di atas batu besar. Disitulah angin kencang semakin mendinginkan tubuh kami. Akhirnya kami berada di lereng seakan di atas awan. karena jelas awan berada di bawah kami. Ttebal putih bergulungan di hamparan mata memandang, berjalan berarak tiada henti dengan jeda kilauan lampu kota dan perumahan yang silih berganti memanjakan mata kami.

Akhirnya pukul 04.12 menit seiring adzan subuh kami pun tiba di pos ketiga atau hamparan sempit di atas batu besar yang berjarak 100 meter dengan puncak uangaran.

Keadaanku sendiri dalam kondisi kurang fit karena cidera otot tungkai atas kiri setelah sembuh dua bulan lalu, serta cidera pergelangan tangan kanan setahun yang lalu tiba-tiba nyeri hebat disebabkan dingin, agak menghambat lajuku yang biasanya leader, tongkat leader pun aku serahkan ke komandan KSR dan kini aku menjadi penyapu ranjau atau penutup rombongan sebagai pengawas di akhir rombongan. Akhirnya bangunan tugu Benteng Raiders dan sebuah tiang bendera kami pandang, yang merupakan puncak tertinggi dari gunung ungaran. Allahu Akbar... sekitar 120 an pendaki telah berada di sana belum lagi yang di belakang kami. Rombongan pekalongan bahkan telah menginap sejak jumat yang lalu. Hawa dingin semakin membekukan darah kami. kami pun survive dengan menyalakan api dan tungku untuk sekedar memasak air guna mematangkan kopi, susu dan mie instan. sementara kabut semakin tebal hingga kami bersabar untuk merasakan hangatnya matahari. Awan bergulung berada di bawah kami dapat terabadikan sebagai kenangan terindah. Hampir semua mata tiba2 menatap arah timur laut saat sinar kuning keemasan mulai menodai awan. jepretan blitz pun terlihat di setiap sudut puncak dan setiap rombongan pendaki. Saat sunrise yang ditunggu pun kami nikmati saat itu. Allahhu akbar sebuah kebesaran dan keagungan Sang Pencipta kembali menggugah keimanan kami.

Setelah puas dengan pose narsis masing-masing akhirnya pukul 06.30 kami pun menuruni puncak guna menghindari jilatan matahri yang menyengat untuk kembali ke bascampe tempat kami istirahat sejenak malam tadi. Akhirnya tepat pukul 08.30 kami disambut kepulan asap nasi di atas piring dengan sayur khas "Jipang" makanan khas desa Promasan, serta segelas teh yang juga mengepulkan asap dengan bau khas daun teh alami membuat kami terasa tiada letih setelah berjalan dari pukul 02.00 s.d. 08.30. Aku pegang gelas dengan menatap puncak ungaran yang tiba2 cerah dengan rasa bersyukur puncak itu telah kami rengkuh hari ini.


Promasan 4-5 Juli 2009

sebuah catatan kecil Ekpedisi Ungaran





Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...