Sunday, September 7, 2008

Kenangan

"Seseorang kan pergi pada 9 September Esok"

Catatlah satu potret sejarah akan menghilang menjelma kata puisi liris
tataplah menara-menara waktu
ketika pena-pena kita sama-sama menaburkan bulan di halaman jendela cakrawala
yang semerbak oleh ilmu di bawah tangga bendera sekolah ini
pernah terdampar dibalik ranjang mimpi di atas meja yang berkunang-kunang
dan ditenggelamkan hanyut direnyai cinta dalam tenun kasih sayangNya

kini semua kan pudar diiris waktu, disiram perpisahan dalam busana album kenangan
kini akan tumbuh hanyut tenggelam tertelan gelombang senja yang membisu
yang tiada mungkin gemercik muara sungai itu bisa dianyam kembali

waktu tlah menggigir tersurut bersama bayang-bayang kenangan
senyum airmata syahdu ini kan tertanam dalam jambangan jiwa
dan bersumpah di atas syair ini akan selalu menatap cermin pada tali laba-laba yang terukir pada rambut senja nanti. ataupun tangan-tangan yang masih menempel di buku harian lalu merebahkan airmata dalam keringat yang terikat bersama
janganlah kau buraikan bacaan bayangan ini dalam kepergianmu lewat lukisan tangismu
ke ruang kegelisahan pada bahasa yang paling dalam
janganlah kau tengelam terpekur dalam kepedihan
janganlah kau kerucutkan manismu terbujur beku dalam perspisahan ini
sentuhlah selendang pelangi dengan deru senyum mengembang
sayap-sayap kan selalu bertengger untuk mengiringi perjalanan asa-asa seiring evolusi masa
mari sulam dan rakit galaksi
semoga kelak kan jadi gunung yang kokoh dan pohon ridang yang mampu kerudungi negeri

kutitipkan pesan dalam syir ini
sampaikan pada tanah air kita, sebab tanah air kita berlantai jingga dan berhias dalam rimba
kegelapan
ibu kita sedang merajut ladang-ladang dari penyempurnaan seorng anak bangsa
rajamlah dinding-dinding fosil itu dengan mahkota suara kesejukan iman
terangilah dengan tetes-tetes cahaya kemuliaanNya
semoga bhakti doa negeri mengiringi langkah-langkah jantung ini

selamat jalan
selamat tinggal
selamat berlayar
selamat berjuang
ijinkan untuk menerjmahkan nafas kehidupan dalam hutan yang lebih sempurna
saat mengembara di negeri yang maha luas dan asing tanpa galah tanpa layar
ragu kan sirna karena selimut Tuhan dalam dada ini

walaupun sejalan usia dan waktu takkan kembali
tapi doa dan senyummu kan selalu abadi dalam taman hati

No comments: