""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Minggu, 12 Januari 2014

Dalam Istirah di Kursi Panjang, Aku......


Bersandar istirah di kursi panjang
berkelana aku ke kota gudeg
bertamu di rumah raden sentono
ah aku bertemu sosok perempuan desa
sapa ramah maria magdalena pariyem
ya gadis gunungkidul itu
memijat aku sepanjang tidurku

kurasakan pijitan itu kian berbeda
kubuka mata ahh ternyata sumarah t'lah gantikan pariyem
ya sri sumarah, perempuan dengan kebaya ketat
janda seorang guru yang kini hidup dengan cucunya
"Tuan tidur saja lagi biar kuselesaikan tugasku" ucapnya

sejenak aku tlah jauh melayang
"tuan pernah mendengar sastra jendra hayuningrat pangruatingdiyu?"
bergetar aku mendengar pertanyaan itu, perlahan kubuka mata
sosok putri sukesi tlah bersimpuh ingin tahu tentang makna kalimat itu.
tak dapat kuungkap aku hanya takut tak dapat mengudarnya ahh aku pun kembali pejamkan mata

tak kusangka aku tlah dijalan menuju arah jakarta
hingga perempatan akhir kudengar gedorgedor di bak belakang
ahh ternyata lasi minta turun, aku tak tahu kapan gadis itu naik
kiranya ia masuk ke bak truk saat aku bertemu sukesi di warung tegal tadi

terhenyak tibatiba aku melihat sosok raksasa menggendong putri cantik melesat melanggar lampu merah
"tolong sampaikan Rama suamiku, aku di bawa seorang koruptor bilang padanya janganlah mencari Shinta, tapi pesankan untuk ke kantor KPK saja, pasti bertemu di sana...."

pusing tibatiba terasa bagai Srintil di akhir cerita
mematung tanpa kata diam tanpa fokus kemana mata memandang
terjatuh dari kursi panjang saat istirah aku

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...