""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Selasa, 14 Januari 2014

Pementasan Siang itu

Teruskan tarian dan tawamu
kan tergelar koreo bahagiamu
pun hatimu menangis
ah mana mungkin,
kutahu jenis tarianmu itu
aku tak mau monolog palsumu
merusak tarian kemenanganmu
menarilah terus, dan terus menari
semakin banyak penonton bergumam
"ahhh tokoh siapa lagi yang dia ajak menari itu? kok bukan kamu?"
"dia bebas memilih tokoh mana pun yang ia sukai, asal pas dengan
cerita yang ia inginkan"
kau pun menari dan tertawa siang itu
"Shinta Gugat" itulah lakon yang kau pentaskan,
kau langgar sendiri pakem yang pernah kau ucap
sementara dewa dewa memandang tanpa kata
hanya jalak dan gagak hitam berkaok
seiring rentetan pertanyaan penonton

aku hanya bergumam tak sedikit pun kau tahu aku ada di sana
kecrek, kenong, gong menggema menutup
pementasan siang itu

lakon apalagi yang kan kau mainkan esok
biarlah penonton pahami cerita tarianmu
berharap tak lagi ada penonton bertanya tentang isi tarianmu
kar'na kaulah yang menulisnya,
bukan naskah yang pernah kita pentaskan dulu

Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...