""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Minggu, 19 Januari 2014

Monolog Luka Seorang Pecinta



Panggung Gelap perlahan lampu meremang sesosok laki-laki menunduk membelakangi penonton mengangkat kedua tangan berteriak panjang menggumamkan luka yang tertahan

“aaaaaaarrrgghhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!”

Perlahan bangkit terseok dan begitu tampak derita bathin dari pakaiannya, memegang kertas kumal catatan lalu yang pernah ditulisnya.

“Tolong, berpuralah mencintaiku, Eflina. sampai kau lupa bahwa kamu sedang berpura-pura. tolong.
setidaknya, kau mencintaiku bukan lantaran tidak ada yang mau mencintaiku, Eflina. Setidaknya.”

Suara Ghaib tiba-tiba menyapa pemuda tersebut saling bersahutan dalam dialog duka

“Sebegitunya derita yg kau mesti gendong, hingga butuh berapa nama lagi kah Agar sembuhkan lukamu?. Mengapa tak kau panggil maria magdalena pariyem, dewi sukesi, sri sumarah, atau lasi dihadapanmu”

“aku tak ingin kesakitan ini berkesudah mas. Sungguh”

“Ah,bagaimana kau bisa menerima cinta dalam kepura-puraan?meskipun nanti dia lupa bahwa sedang berpura-pura, wahai perempuan yg tlah buatmu luka, betapa cinta tlah sebegitu hebat utkmu, sepertinya kau lebih mencintai luka-luka itu”

“Setidaknya masih ada cinta untukku”

“aku mencintai luka itu sendiri. Sungguh”

“Itu bukan cinta hai pemuda gagah, Kau cintai luka dengan menghadirkn luka baru dari perempuan-perempuan barumu yang. Entah siapa itu”

“cinta itu apa?”
“bisa jadi.., bisakah itu kusebut pelarian?”

“aku tlah lihat kedahsyatan luka itu dari bicaramu”

“Sangat luka, yangg pasti,yang aku tahu tak ada kepura-puraan dalam cinta”

“ada”

“Ah,berarti aku yang tak mengerti cinta seperti itu”

“cobalah melihat cinta dari angle yang berbeda”
“Tlah aku lakoni kepura-puraan itu selama hampir seribu hari, tapi tak jua kulupa ini tak seharusnya terjadi.Aku lebih memilih terluka yang benar2 luka daripada luka karena pura-pura cinta “

“bukankah lebih indah jika mencintai dalam diam meski itu menimbulkan luka daripada mencintai dalam kepura-puraan disertai luka?”

“,,luka tetaplah luka, darimana pun muasalnya. ah!”

Pemuda itu menatap tajam penonton dan menyobek-nyobek kertas kumal itu
Music menanjak dan lampu perlahan redup

Penulis antologi "Tifa Nusantara"
(Dimaz, Anna Mariyana, Nurhadi)

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...