""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Jumat, 03 April 2009

Di Sepertiga Malam


Ingin ku rengkuh keutamaan di setiap malam
Namun, nafsu kembali berhasil meniduriku
Kelopak mata pun kian mengering dibumi hati yang kian kerontang
Sementara aku hanya bisa berharap
“semoga malam berikutnya tidak seangkuh dan seganas malam ini”
Iblis terbahak melihat kekalahanku
Malaikat menangis melihat kemalanganku
Kembali ku tunaikan sholat isya’…
Dengan harapan, sepertiga malam terahir nanti
kedua tanganku mampu membasuhkan air wudlu diwajah dosaku.
Namun lagi-lagi aku gagal meraihnyaTak serokaat pun mampu ku dirikan
Tak sekalimah pun mampu ku lafadlkan
“apa mungkin karena seringnya iblis berhasil mengencingi telingaku,
sehingga kedua indra ini tak pernah lagi
mendengar sayup-sayup alam yang tak pernah berhenti memuja-Mu?”.
Aku kalah dengan stomata yang tak pernah berhenti bertasbih
Aku kalah dengan bebatuan yang tak pernah henti berdzikir
Aku kalah dengan air yang selalu menggemakan alunan dzikir

Beberapa bulan kemudian aku
dihadapkan pada satu episode hidup yang belum pernah ku perankan sebelumnya
Bermacam cobaan berbaris rapi rapi bertamu mengunjungiku
Hingga pada suatu malam…
“berbahagialah.. Tuhanmu telah mengabulkan doamu”
Hembusan angin tafakkur masuk mengantarkan bisikan itu kedalam hati
Aliran darah mendidih Irama jantung berdetak
bak halilintar yang mencambuk Iblis karena ingin mencuri rahasia langit
Kelopak mata mulai tergenagi luh
Bibir bergetar diiringi suara gemelethuk gigi beradu
Hingga ahirnya malam itu air mata mengguyur pipi
“semoga air mata ini sebagian dari air mata yang akan dipercikkan malaikat Jibril
dihari kiamat nanti ketika gumpalan bola api akan melahap Umat Muhammad”

Ku peluk kesedihan dengan Tahmid
Sedangkan kegelisahan ku belai dengan Tashbih
Namun kahawatiran kembali menamparku
“apakah malam ini mampu engkau pertahankan?
Seperti malam-malam yang akan engkau lewati sembari menghabiskan sisa waktumu?”
Akupun tersentak…!Hingga tetesan luh kembali bercumbu dengan kedua pipiku
Sedang dibawah hamparan sajadah, Iblis dengan sesumbar sumpah serapahnya berteriak
“lihat saja nanti, apakah besok malam kamu masih bisa seperti ini lagi?!”
Hingga ahirnya lari terbibirit-birit mendengar Ta’awudz yang ku ucapkan.



Coretan hati sohibku "Sudjana"

Moga jadi renungan kita bersama

2 komentar:

Li mengatakan...

nice posting sob...^^

Abd. Basid mengatakan...

bagus karya sob. teruskan sastramu. kmentari juga tulisan di blogQ.

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...