Friday, April 10, 2009

Mengenang Kematian, Menginsafi Diri dan Merencanakan Masa Depan

Tahun 2001 merupakan tahun ujian keluarga kami. Keluarga besar kami begitu kehilangan orang-orang yang merupakan pilar kebahagiaan kami. Beruntun dalam tahun tersebut berawal dari dua nenek Buyut, kemudian Kakek, Ayah Senin dini hari pukul 02.30 meninggal dunia. tiga bulan berikutnya Nenek juga menyusul. Mereka semua meninggalkan dunia fana ini dengan kedamaian islami; wajah ayah seakan orang yang tidur, dan Nenek begitu ‘cepat’ sehingga mengagetkan siapa saja yang dekat dengannya.
Kematian bisa datang mengejutkan. Padahal di banyak waktu kita menunggunya begitu tak ‘sabar’. Tentu tak ada yang mengingini kematian saat hidup begitu indah, nyaman, dan mudah; saat seseorang masih mencoba merasa-rasakan nikmat atau puncak kehidupan. Tapi tentu ada banyak orang yang mengingini hidup segera berakhir, saat diri terhimpit begitu rupa. Ditekan kiri dan kanan, dan tak ada ruang untuk bergerak sama sekali; sementara ia memiliki rasa malu sedemikian rupa yang ditanamkan masyarakat padanya semenjak kecil. Saat seseorang benar-benar merasa kecil dan terus dikecilkan.
Namun ada kematian yang begitu damai. Seperti kukenangkan pada ayahku.
Ayahku lahir dari keluarga yang tak bisa dikatakan miskin. Tapi ayahku, seperti katanya pada anak-anaknya, memulai usahanya dari nol, dari dirinya sendiri tanpa bersandar kepada ayahnya—kakekku. Kebetulan ayah seorang guru aktivis kepanduan (pramuka) dan ayah terakhir menjabat sebagai kepala sekolah sebelum dipanggil yang Kuasa. Inilah yang menguatkannya, yang membuatnya begitu tegar menghadapi berbagai cobaan. Ia mempersiapkan semuanya secara bertahap, dalam irama yang diatur sedemikian jernih oleh ‘Yang Mahakuat’. Dan kami, anak-anaknya, kemudian benar-benar diwarisinya ilmu agama, ilmu dunia dan kedisplinan.
Sakit ayahku mengejutkan kami, dengan sakit yang begitu hebat. Ia terserang stroke, dan membuat kami berasumsi sedemikian rupa. Kami—aku lebih tepatnya—mengasumsikan banyak hal, karena banyaknya anaknya dan peninggalannya, sehingga menimbulkan kecemasan-kecemasan dan tekanan mental dengan atmosfir ketakutan. Tapi ternyata, di akhir hidupnya ia meninggalkan kedamaian. Kedamaian yang tampak di wajahnya yang terakhir, kedamaian di hatiku yang ditinggalkannya. Aku merasa begitu tenang saat memandang wajah terakhirnya, seakan hapus semua kecemasan yang tumbuh di hatiku seiring waktu yang berlalu bersama saudaraku yang banyak. Inilah potensi kebaikan, menenangkan. Ayah meninggalkan kami setelah 6 hari di rumah sakit.
Begitu juga dengan nenekku. Ia tak meninggalkan apa-apa, ia tak memiliki apa-apa untuk ditinggalkan, tapi ia ‘pulang’ begitu tenang (meski aku sempat bingung memandang akhir kehidupan begitu dekat denganku.) Sore saat aku mengajar, tiba-tiba hpku berdering dan Istriku bilang nenek sakit dan berpamitan serta mohon maaf kepada semua warga desa. aku kaget sebuah firasat yang bisa aku tebak. Yang Aneh kenapa tiba-tiba, padahal paginya nenek masih menggendong cicitnya (anakku). Setelah sholat maghrib - Isya pun nenek tunaikan, Semua keluarga di suruh tidur dan meninggalkannya. Tanpa kami duga Allah berkehendak lain, nenek pergi dengan ketenangan tanpa kami saksikan sakaratul mautnya. Kami pun tak sempat mendampingi nenek dengan alunan surat Yassin. Alhamdulillah Ayah dan nenek meninggalkan dunia fana ini sudah ziarah ke Mekkah al Mukarammah. Jadi lengkap sudah rukun Islam yang dijananinya.
Apa yang kita inginkan sebenarnya dari kehidupan ini. Ia begitu singkat jika dibandingkan dengan daur hidup yang abadi. Semuanya datang dan kemudian pergi. ‘Urip mung mampir ngombe,’ kata orang Jawa. Apa yang kemudian kita rencanakan dan telah persiapkan untuk masa sesudah hidup kita, untuk orang-orang yang akan mengenangkan kita. Jika memikirkan ini seringkali aku sedih, ternyata hidup begitu sia-sia, sekaligus tak sia-sia jika memandang ada hidup sesudah hidup kita. Hidup anak-anak kita, hidup orang-orang dekat kita sesudah hidup kita berakhir. Dan apakah kedekatan itu, yang membuat seseorang mengenangkan orang lain sesudahnya? Mungkin ialah kebaikan—apa-apa yang kita usahakan baik bagi orang lain. Tanpa pamrih.
Mengenang sebuah kematian mestinya membuat kita menginsafi diri, menyadari apa-apa yang telah kita miliki, usahakan, dan apa yang masih tertinggal—kurang. Menginsafi diri membuat kita memandang ke cakrawala: apa yang tersisa untuk kita di depan sana, apa yang akan kita raih di masa depan, dan bagaimana merencanakannya. Merencanakan masa depan membuat kita berusaha mempersiapkan segalanya, sedikit demi sedikit, untuk kita asumsikan kemudian sebagai kebaikan yang akan kita tinggalkan untuk orang-orang yang akan mengenang kita sesudah kita. Setidaknya begitulah pelajaran yang ditinggalkan ayah dan nenekku.

Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’aafihi, wa’fu ‘anhu.

kugubah seperlunya coretan Kang Hajri untuk
Mengenang Nenek, Ayah dan Nenek Buyut
"Ridlo Allah dan safaat Rosulullah
semoga selalu menerangi Jalanmu"

2 comments:

bening said...

hemmmmm.....
termenung aku membaca postinganmu sobat
agak merinding neh

nz said...

semoga tabah ya.
sama2 lah kita bermuhasabah diri~

salam dari perak, malaysia.