""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Kamis, 13 November 2008

Malam dalam rengkuhmu di bawah rona Bulan

Ilalang berjubah hitam berdesir sambil bergesekan pelan ditiup angin malam.

Kau senang?

Aku senang, tentu. Terimakasih, ya.

Aku tahu kalau kau akan senang, maka aku bawa kau ke sini.

Benar sekali. Aku memang paling senang terlihat berkilau-kilau di bawah malam. Tapi, malam biru ini, aku tidak tahu kenapa kok bulan itu sepertinya berkedip-kedip menggoda?

Dia pasti cemburu sama kita.

Mungkin.Tapi... kenapa dia harus cemburu?

Aku tahu bulan pasti sedang menggodaku. Aku tahu pasti bulan ingin aku berpaling pada dirinya. Aku tahu bulan pasti tidak rela aku membagi cintaku untukmu. Aku tahu bulan pasti akan...

Tunggu. Kau… mencintaiku?

Aku… kukira aku... tapi tadi aku.... Lupakan. Lupakan saja, kumohon.

Tidak bisa.

Kumohon. Ya?

Tidak mau. Apa itu tadi? Kau--

Ya, Tuhan. Hatiku sudah bersimpuh memintamu untuk melupakan apa yang kukatakan barusan.

Terserah kaulah.

Eh?

Eh juga. Kau lihat disana? Bulan sekarang mungkin sedang tersumat api cemburu. Kau lihat, kilauannya kadang terang kadang mendung.

Kenapa bulan harus cemburu?

Karena aku juga. Kata-katamu barusan membuatku... maksudku hatiku tiba-tiba kelu. Membuatku tidak bisa berpikir jernih lagi. Kurasa... maksudku kau tahu tidak kalau aku... aku...

Wajahmu bersemu merah. Kau kenapa?

Kau tidak tahu?

Beri tahu aku supaya aku tahu.

Kau benar-benar tidak tahu?

Aku kan sudah menjawabmu.

Aku pikir... bulan malam ini memang benar-benar sedang biru.

Apa sih maksudmu?

Seperti hatiku.

Hey, jangan menggumam. Aku tidak dapat mendengar ucapanmu barusan.

Kau tahu, mungkin kita bisa kesini lagi besok.

Boleh juga. Dan aku akan berharap sungguh-sungguh untuk tidak terlalu malu. Aku berjanji... aku akan mengatakannya lantang dan bulan pasti akan patah hati.

Jangan menggumam. Aku juga tidak bisa mendengar apa yang kau katakan barusan.

Bulan pasti bahagia malam ini.

Iya, bulan memang bahagia. Tapi tetap saja warnanya mewakili lukisan hatiku malam ini.

Aku juga.

Aku tahu kau pasti senang aku mau menemanimu.

Aku tahu kau pasti senang aku bawa kesini.

Aku harap besok masih ada kesempatan.

Aku juga sangat berharap.

Matamu berkaca-kaca?!

Matamu juga.


"Aku pinjam ceritamu Bulan"
November 2008

Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...