""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Kamis, 20 November 2008

Sajak dalam Kertas Berserak

JIKA AKU MASIH BERPELUH DENGAN MALAM
BENCI AKU PADA MALAM
JIKA MALAM MASIH TERUS BAWA PURNAMA
KARENA REMBULAN HANYA BERMUARA PADA KEPALSUAN
KERINDUAN ITU PALSU
PUISI ITU PALSU BAHKAN TERANG JUGA PALSU
TAUKAH KAU WAHAI PECINTA MALAM
MALAM PUN PALSU
PEMBAWA PURNAMA ADALAH PALSU
BAHKAN TAK PERNAH TERPERI LUKA YANG TERPATRI
KARENA SEMUA HANYA PALSU
SEBAB REMBULAN ITULAH
SEGALANYA MENJADI PALSU........

Terperangah aku baca sajak itu disebuah kertas yang berserak di hembus angin. Aku coba pahami, aku coba maknai. Kembali kuterawang peristiwa yang tlah lalu. Adakah sesuatu yang salah pada malam.

"Nang, istirahat sudah malam Nang!"
"Nang, bawa penerang, malam ini gelap Nang!"
"Nang, istirahatlah, besok lagi kan bisa"

Itulah kalimat Emak yang sering ku dengar, mengingatkan aku akan malam. Adakah yang salah dengan Malam. Apakah rembulan, ataukah bintang. Bagaimana dengan matahari?

Kepalsuan adalah satu kenisbian yang tak sempurna bahkan takkan terwujud. bilakah purnama juga suatu kepalsuan? sekelumit perasaan yang terasa saat purnama mengembang, begitu bahagia, terang, damai. Biarlah malam tetap purnama jangan kau benci rembulan. Tugas rembulan adalah terangi malam. Tugas matahari adalah terangi siang. Akankah kau juga kan benci matahari ? akankah juga kau bilang siang yang palsu dengan matahari palsu?
Aku hanya bisa renungi kalimat sajak berserak dihempas angin.

Tidak ada komentar:

Meruang dalam Dingin Juanda

Hembus mengalun petikan, alunkan syair alirkan makna Hening ruang tunggu terbius merdu nyanyianmu Bukan sosokmu yang membiusku Makna ...