""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Kamis, 11 Juni 2009

Dalam Pekat Aku Berlari

Tak kuasa lagi kutanggung gelisah
meski rindu tetap membiru
aku mengungsi darimu
Pada semburat merah senja
engkau menjadi titik bias matahari

kesadaran di penghujung hari
sebab silau aku menjauh ke gelap malam
namun engkau pun rembulan
menyelimutiku dalam geletar
Menembus pekat aku berlari
meninggalkanmu dari segala gemerlap
aku menghilang dalam sunyi
tetapi engkau menjelma sepi

Aku mengungsi darimu
bersayap ke alam mimpi
aku lelap tapi engkau pula kujumpa

3 komentar:

Raini Munti mengatakan...

nyatakan perasaanmu sobat, jgn kau pendam percuma dia tak kan tau..
jadilah lelaki dan ungkapkan selanjutnya terserah allah, gmn? :)

aku nyambungny gt ke puisi kamu,kira2 bner g? coz aku krg soal puisi

aghielz mengatakan...

kalo gw nemuin yang bikin puisi, tangan gw slalu gatel tuk ngaseh comenk.... sukses buat puisinya, i love puisi

Natalia mengatakan...

wah wah..ini judulnya emang gak bisa lari dari perasaan..mendingan hadapi dan ungkapkan...nice poem bro :)

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...