""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Rabu, 17 Juni 2009

Telaga Itu Tak Lagi Bening

Tiap kali menatap lekat mata itu
serasa cerita meradang
tiap kali menatap telaga
riak-riak tersembunyi di balik bening mengalir makna
kucoba rangkai makna menyerupai roman

telaga itu tak lagi tenang
Tak dapat kulihat jernih kaca bergelombang
Apalagi berkaca pada air mencermati wajah duka ini

Kutatap diam-diam dalam telaga bening itu
Riak itu menyembul mengalir satu-satu
Perlahan membentuk butiran-butiran bening.
Telaga itu pun berkabut.
Rasa itu tak bernama
otakku tak sanggup menguraikan
Ada gairah di setiap langkah kaki, ringan, melayang
Bernyanyi, tersenyum riang

Semuanya menjadi abu-abu. Tak ada hitam, tak ada putih
tak dapat kubedakan
Tetapi aku semakin lara, karena rasa tiba2 semu dan nisbi
Rasa itu kembali hadir saat pertemuan tak ada
Aku marah pada waktu yang merangkak bak siput

Aku tersenyum mengingat
walau tak ada yang lucu
Mencermati wajah setiap senti dalam ingatan.
Aku tak lupa. Aku pun tak tahu apa sebabnya.
Tetapi aku tak kuasa melawan rasa.

Aku malu! Aku malu pada mereka melalui tatap mata
Aku marah pada diriku. Mengapa aku tak dapat menahan rasa.
Menyesali pertemuan ataukah perpisahan,
tapi kau membuat hariku penuh dengan rasa.
Kini aku berduka untuk sesuatu yang tak kumengerti

Tidak ada komentar:

Pada Langit Jakarta Aku menatap

Langit hempaskan ilusi bersandar pada pundak waktu berbicara pada bayang berserak di luar jendala aku yang hanya kecil terpana pada senj...